ANTARA AKU,
SUAMIKU,
IBU MERTUAKU
————————————-
Aku Milik Suamiku,
Sedang Suamiku Milik Ibunya.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

● Seburuk apapun mertua, Aku selalu ingat bahwa dia, Adalah wanita yang mengandung suamiku dalam kepayahan selama 9 bulan.

● Dia, Adalah wanita yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku.

● Dia, Wanita yang mendidik dan membesarkan suamiku, Yang mengajarkan kepada suamiku akhlaq sehingga aku nyaman di sisi suamiku saat ini.

● Aku, Tidak pernah keluar uang sepeserpun untuk menyekolahkan suamiku, Hingga ia dapat ijazah, Pengetahuan dan pengalaman hidup, yang sekarang semua itu ia gunakan untuk mencari nafkah, Untuk menafkahi aku!

● Aku, Tidak sedikitpun mendidik suamiku hingga kini ia jadi lelaki yang penuh tanggungjawab, Dan aku merasakan bahagia menjadi istrinya.

● Setelah pengorbanannya yang bertubi tubi, Anak laki-lakinya menikah denganku, Dia bagi kasih sayang anaknya denganku.

● Cemburu?
Pasti dia cemburu. Aku wanita asing, Yang kini selalu disayang-sayang oleh anak laki lakinya.

● Harta anak laki-lakinya tercurah untuk kunikmati, Padahal ia yang melahirkan dengan bertaruh nyawa, Membesarkan dan mendidik suamiku.

● Aku memahami cemburu itu, Walau aku pun merasakan cemburu ketika suamiku lebih memihak mertuaku. Namun aku selalu ingat bahwa “Aku milik suamiku, sedang suamiku milik ibunya”.

● Aku bukanlah malaikat yang tak pernah merasa kesal dengan mertuaku, Dan mertuaku pun bukan malaikat yang selalu kubela.

● Adakalanya aku marah, Cemburu dan sakit hati. Namun aku ingat mungkin mertuaku pun terkadang merasakan hal yang sama. Namun lagi-lagi aku pun ingat semua jasanya pada suamiku, Jasa yang sampai akhir hayat-pun aku tidak akan mampu membayarnya.

● Terlebih jika mertuaku adalah seorang yang baik serta memperlakukan aku seolah putri kandungnya sendiri.

● Terlebih jika aku ingat saat mertuaku selalu mengingatkan suamiku agar jangan memarahi apalagi membentak serta memperlakukan aku, istrinya ini, dengan sebaik-baik perlakuan dan akhlaq.

● Maka sangatlah tidak pantas jika aku menghadapkan suamiku pada kondisi yang mengharuskannya memilih antara aku dan ibunya.

● Pada ujung tangisku, terngiang nasehat ibundaku tercinta :
“Nak, dukunglah suamimu untuk berbakti pada ibunya. Jangan suruh ia memilih antara kau dan ibunya. Karena, Kelak kau akan merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh anak laki lakimu. Apa yang kau lakukan pada mertuamu, Akan dilakukan pula oleh menantumu. Segala sesuatu pasti ada timbal baliknya..”

● Oh suamiku,
Bahagiakanlah orang tuamu semampumu, Insya Allah akan aku dukung dirimu dalam berbakti pada orang tuamu, Terlebih pada ibundamu.

● Semoga kelak anak-anak kita pun membahagiakan kita, Sebagai balasan baktimu pada orang tuamu. Selagi mereka masih hidup, belum tentu hari esok mereka tak ada.

● Duhai suamiku…
Bantulah aku untuk bersabar dan mencintai ibundamu tanpa kenal lelah. Seperti aku yang dengan tulus mencintaimu.

● Jangan sampai kita merasakan kerinduan pada mereka yang telah membuat hari-hari kita repot dan kadang mengeluh saat membantunya.

● Mereka tak akan lama, merepotkan kita… Bersabar adalah cara terbaik yang Allah berikan, Ikhlaslah karena balasannya surga bagi kita.

Aamiin Allahumma Aamiin

Artikel Diambil Dari :
/// Kabar.Makkah |
Kajian quran dan hadits:
1. Ayat quran dan hadits berbakti kepada Ibu

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي
وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
الْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات قَالَ رَوَاهُ أَحْمَد
وَالنَّسَائِيّ وَابْن مَاجَهْ وَالْحَاكِم
“Surga itu dibawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad, an-Nasaai, Ibn Maajah dan al-Hakim)
( الجنة تحت أقدام الأمهات ) يعني لزوم طاعتهن سبب قريب لدخول الجنة
“Surga itu dibawah telapak kaki ibu; artinya selalu mentaatinya akan menjadikan sebab dekatnya seseorang untuk masuki surga. (At-Taysiir Bi Syarh al-Jaami’ as-Shaghiir I/996)

2. Hadits berbakti kepada suami bila sudah menikah
Sebagaimana dalam hadits dari Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Selesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
Dengan demikian Jelaslah bahwa Ketaatan istri pada suami agar suaminya ridho adalah jaminan surganya, seperti dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة »
(رواه إبن ماجه والترمذي)
“Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga”. (HR Ibnu Majah, dan di hasankan oleh Imam Tirmidzi).