Renungan

Ukhti,…sebelum tiba ke dalam gerbang
pernikahan biasanya engkau akan mengalami
ihwal melihat calon pasanganmu. Baik si dia
maupun engkau masing-masing ingin tahu lebih
banyak tentang calon yang akan menjadi
pendamping hidupnya. Dan,..memang itu tidak
salah bahkan islam menganjurkan agar calon
suami ukhti melihat dirimu, karena agama kita
ini adalah agama yang hanif yang tidak memuat
kecurangan ataupun membuat rugi pemeluknya
maka engkau akan melihat betapa sempurnanya
dienmu ini.

Bila masa itu tiba, dan engkau ingin dilihat
olehnya, maka persiapkanlah dirimu dengan
sebaik-baiknya biarkan ia melihatmu jangan
engkau tutupi segala kekurangan yang ada
padamu karena itu akan membawa penyesalan
nantinya adapun kelebihan yang ada pada dirimu
maka pertahankanlah, jadilah dirimu sendiri,
inilah aku apa adanya, semoga engkau menjadi
suka padaku karena Allah semata.
Tapi terkadang diantara engkau ya ukhti,
…..dihadang pada suatu masalah ketika calonmu
jauh darimu sehingga ia tidak bisa melihatmu
secara langsung. Maka ia akan meminta foto
dirimu. Agar bisa melihatmu dengan lebih dekat
dan lebih pribadi. Atau terkadang diantara calon
yang ingin melamarmu walaupun sudah
melihatmu tapi masih juga menginginkan foto
dirimu, maka apa yang akan engkau lakukan??
Ketika calonmu mengatakan, “Ya ukhti…
bolehkah aku meminta fotomu??”
Tunggu dulu jangan engkau beri jawaban,
iya….karena dengan alasan ia ingin menikahimu
maka engkau begitu mudah untuk
memberikannya.

Bagaimana kalau ia tidak jadi
menikahimu?? Bisakah engkau meminta fotomu
kembali? Apakah engkau yakin ia bisa menjaga
amanah untuk tidak memperlihatkan fotomu
kepada orang lain selain kedua orang tuanya?
Ah,..mungkin kau berfikiran….inikan hanya
sebuah foto! masalah kecil…coba baca
keterangan ulama tentang masalah ini agar
hatimu tenang dan engkau tidak membuat
kesalahan yang fatal.

Ukhti muslimah, sebelum aku menjelaskannya
kepadamu,…maka wajib bagimu untuk
mengetahui secara detail tentang hukum
memandang ini (nadhor).Berangkat dari sebuah
hadits mulia yang disampaikan oleh sebaik-baik
manusia diatas muka bumi ini, siapa lagi kalau
bukan beliau Nabi kita Muhammad Shalallahu
alaihi wassalam bersabda:
“Jika salah seorang diantara kalian meminang
seorang wanita sekiranya ia dapat melihat
sesuatu darinya yang mampu menambah
keinginan untuk menikahinya, maka hendaklah ia
melihatnya”.
(HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad hasan
dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari hadits Jabir
Radhiyallahu ‘anhu)
Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-
Nasa’i dan Ibnu Majah dari Mughirah bin
Syu’bah bahwasanya ia melamar seorang
wanita maka Rasulullah bersabda:
“Lihatlah ia karena itu lebih melekatkan kalian
berdua”.
Dan, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-
nya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu
bahwasanya seorang pria melamar seorang
wanita, lalu beliau bertanya,
“Apakah engkau telah melihatnya?”
ia berkata:”belum””.
Beliau bersabda,”Pergilah dan lihatlah ia”.

Dari hadits-hadits diatas dapat kita fahami
bahwa islam mensyariatkan calon suami untuk
melihat wanita yang akan dinikahinya.Karena
sungguh faidahnya yang besar yaitu akan
membawa kepada kedekatan diantara kedua
belah fihak. Masing-masing akan tahu kelebihan
dan kekurangan calon pasangannya.
Tentang masalah memandang ini maka engkau
akan dapati perbedaan pendapat dikalangan
ulama. Menurut jumhur ulama, ‘Diperbolehkan
bagi pelamar melihat wanita yang dilamarnya,
akan tetapi mereka tidak diperbolehkan melihat
kecuali hanya sebatas wajah dan kedua telapak
tangannya’.

Sedangkan Al-Auza’i
mengatakan:”Boleh melihat pada bagian-bagian
yang dikehendaki, kecuali aurat”. Adapun Ibnu
Hazm mengatakan:”Boleh melihat pada bagian
depan dan belakang dari wanita yang hendak
dilamarnya”. Bersumber dari Imam Ahmad,
terdapat tiga riwayat mengenai hal lain.
pertama, seperti yang diungkapkan jumhur
ulama
kedua, melihat apa-apa yang biasa terlihat
ketiga, melihatnya dalam keadaan tidak
mengenakan tabir penutup (jilbab).
Jumhur ulama juga berpendapat:
“Diperbolehkan melihatnya, jika ia menghendaki
tanpa harus minta izin terlebih dahulu dari
wanita yang hendak dilamarnya (secara
sembunyi-sembunyi)”. Adapun menurut Imam
Malik, dari sebuah riwayat bahwa beliau
mensyaratkan adanya izin dari wanita tersebut.

Setelah engkau mengetahui dalil tentang
hukum memandang (nazhar) yang akan dipinang
maka kita kembali kemasalah diatas yaitu
ketika ia berusaha untuk meminta foto dirimu,
dengan berbagai alasan yang dia ungkapkan
kepadamu agar engkau memberikannya.
Ya,..mungkin hati kecilmu akan mengatakan
hanya sebuah foto,…tidak apa-apa! mungkin
engkau telah siap memasukkannya dalam
sebuah amplop untuk diberikan kepadanya, foto
terbaik yang ada padamu atau bila engkau sama
sekali tidak memilikinya maka engkau mungkin
akan beranjak pergi ke studio foto agar mereka
bisa mengambil gambarmu…

Baiklah,..ukhti muslimah saudaraku fillah,…mari
kita simak fatwa dari ulama kita tentang
masalah ini,..sungguh aku berharap kepadamu
setelah engkau mengetahuinya maka engkau
aka berubah fikiran.Inilah jawaban beliau dari
sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya
(semoga Allah merahmatinya).Ada seorang
lelaki yang bertanya kepada Syaikh Utsaimin,
“Apakah aku boleh meminta foto wanita yang
aku pinang untuk dilihat?”
Maka beliau menjawab: TIDAK BOLEH, karena
beberapa sebab:
1. Kemungkinan foto tersebut akan disimpan
oleh pelamar, meski ia tidak jadi menikah.
2. Foto tersebut tidak bisa mewakili keadaan
orang yang sebenarnya, karena terkadang rupa
yang bagus menjadi jelek atau sebaliknya
(menjadi bagus) disebabkan foto.
3. Tidak pantas bagi seorangpun untuk
memberikan peluang kepada orang lain
mengambil foto salah satu anggota
keluarganya, baik anak wanita, saudara wanita
atau yang lain. Hal tersebut tidak boleh karena
megandung fitnah. Boleh jadi foto tersebut
jatuh ketangan orang-orang yang fasik,
sehingga anak-anak wanita kita akan menjadi
bahan tontonan. Jika ia berwajah cantik ia
menjadi fitnah bagi banyak orang, namun jika ia
berparas kurang rupawan maka ia akan menjadi
bahan cercaan orang.
(Fatwa Ibnu Utsaimin 20/810)

Jelaslah sudah nasehat yang disampaikan ulama
kepada kita, semuanya untuk kemaslahatan kita,
para muslimah agar terhindar dari fitnah.
Karena itu, bila calonmu meminta fotomu maka
kini engkau telah tahu jawabannya. Semoga
engkau tidak tertipu oleh bujuk rayunya. Jadilah
wanita mulia yang terhormat, Sungguh bila
engkau perhatikan , hanya dienmu ini (islam)
yang mengangkat derajatmu dan memuliakan
dirimu.

Semoga Shalawat dan salam senantiasa
tercurah kepada junjungan kita, para istrinya
dan keluarganya dan sahabatnya hingga hari
akhir.
Wallahu ‘alam bish-shawwab
___________________________________

Sumber rujukan:
1. Fiqh Wanita, hal :399-340, Syaikh Kamil
Uwaidah, Pustaka Al-Kautsar,Jakarta, 1999M.
2. Fatwa-fatwa Muslimah,hal : 253-254,Darul
Falah, Jakarta,200M
3.Fatawa Liz Jauzain, Hal:23-24, Media Hidayah,
Jogjakarta,2003M.
________________________________________
jilbab.or.id