432251_2795209847975_1490312357_32103799_1035795738_n.jpg%3fw=584

Kami tiga bersaudara, aku bungsu dan satu- satunya yang paling cantik di rumah. Begitu papa selalu menggodaku, tapi kakak nomor duaku bilang, bunda lebih cantik. Begitulah hari-hari kulalui bersama mas Agung kakak nomor duaku. Kami akrab, apalagi praktis sejak Mas Galang jadi PNS di luar kota. Kami jadi lebih dekat. Saat pertama mas Galang pertama keluar kota, sedih banget rasanya. Aku kehilangan bukan main. Sering aku ke kamarnya, menangis disana. Rumah sepi tanpa candanya. Dan kini kami juga kehilangan mas Agung. Dia jadi pendiam, jarang bercanda, sering lebih asyik tenggelam di kamar dengan buku-buku “bacaan barunya”. Kubilang buku bacaan baru karena yang ia baca adalah buku- buku bacaan Islam!! Rasanya aneh saja, sebab ia biasa baca novel-novel atau buku-buku roman picisan. Tapi kini raknya penuh dengan buku-buku islam yang sangat asing bagiku. Dari tatacara shalat, kumpulan hadits Bukhari- Muslim dan seabrek buku dengan judul-judul yang sulit kueja bacaannya. Aduh, pusiiiing… Tak cuma itu, poster artis-artis hollywood dan mandarin F4, sampai kesayangannya Gun’s & Roses, Air Supply, Slank, poster & kaset CDnya bersih semua tanpa sisa. Di kamarnya ada tulisan besar “No Smoking”, padahal yang kutahu mas Agung itu perokok berat. Hebat, dia bisa berhenti dari rokok secara tiba-tiba!  Belum lagi kini ia cuek dengan teman-teman wanitaku yang datang ke rumah. Padahal dulu dia akan segera nimbrung tanpa diminta sambil nenteng gitarnya. Nyanyi dan ketawa bareng. Aku jadi tak enak sendiri pada teman- teman yang bertanya tentang perubahannya. Lewat pakai nunduk-nunduk segala! Kalau aku protes ia bilang, katanya justru sikapnya itu justru menghargai wanita, ngga’ jelalatan, menghormati perempuan. Tuturnya sambil senyum-senyum. Bajunya?! Amit-amit sekarang gak ada keren- kerennya. Celana cutbray plus jeans belel dan kaos Metalica-nya entah kabur kemana. Berganti dengan hem sederhana atau baju koko dengan celana cingkrang gombrang bak kurang bahan. Menurutku penampilannya selevel dengan pak Jarwo tukang kebun di rumah.  Dan satu lagi kebiasaan barunya ia rajin taklim dan pernah menyeretku “bersamanya”. “Yuk, ikut mas Agung ngaji…” Meski awalnya sering kutolak mati-matian, akhirnya ia selalu sukses mengajakku. Belum lagi ia meninggalkanku sendirian bersama wanita- wanita di ruangan sisi masjid, dan ia entah dimana. Ia membiarkanku salah tingkah tampil beda tanpa kerudung, berkaos pendek, dan bercelana jeans. Awas ya, batinku merutuk. Tapi salah siapa? Tadi ia sudah memintaku berkerudung dan berpakaian lebih pantas tapi kutolak. Di parkiran ia cengar-cengir menantiku usai taklim “Gimana?”, “Bodo ah”, jawabku ketus. Lalu kami beli es buah sesuai janjinya untuk menghilangkan sewotku

*****

 Besok mas Galang pulang cuti. Aku senang bukan main. Aku bakal mengadu habis padanya soal perubahan mas Agung. Biasanya aku Cuma mengadu lewat telphon. Besok kalau mas Galang pulang dia bisa melihat sendiri seperti apa mas Agung sekarang. Dijamin pasti ia ikut tak senang sepertiku. Biasanya sih mas Galang bilang di telpon, “Kalau berubah ke arah yang lebih baik kan tak masalah”. Nasehatnya setengah bertanya. “Uh, baik apanya?, jadi kuper, gak trendy, gak modis lagi, malah miara jenggot juga tuh”. Tapi yang kulihat hari ini…., hampir membuatku pingsan. Saat turun dari taksi, masyaallah… penampilannya persis kayak mas Agung sekarang. Mas Agung tersenyum. “Assalamu’alaikum akhi (saudaraku-red)?” mereka berangkulan hangat. Aku diam melongo. Sejak kapan mas galang ganti nama jadi akhi. Kubiarkan tubuhku dipeluknya. Aku bahagia tapi tetap merasa aneh. Sungguh dua abangku jadi lebih santun dan pendiam. Diam-diam kuakui mereka tetap saja ganteng dengan penampilan mereka kini. Padahal dulu mereka urakan, jago nongkrong, dan ngrokok. Apalagi kalau sudah main billiyard atau ngeband, bisa lupa waktu. Mama sering dibuat pusing kalau pagi. Mereka susah di bangunin untuk sekedar sholat shubuh, papa sampai sering ikut marah. Tapi kini, mereka rajin sholat tanpa disuruh dan berhenti dari membuang waktu sia-sia. Makan juga seadanya. Padahal dulu mereka akan mogok makan kalau tak ada ikan dimeja. Papa dan mama respek pada perubahan dua abangku. Hingga papa tiba-tiba bicara saat makan malam. “Kapan ya papa punya akhwat di rumah?, alhamdulillah papa sudah punya 2 ikhwan. Sudah gedhe lho kamu Na, kapan mau tutup aurat?” Sebel deh, papa bilang begitu. Tapi ada yang lain dihatiku.  

*****

 4 bulan berikutnya aku mulai PD berkerudung meski kecil dan merasa aneh pada awalnya, lama-lama aku mulai merasa nyaman memakainya. Sedikit demi sedikit kerudung kuperbesar. Mas Agung senang bukan main. Ia rajin menghadiahkan untukku buku-buku salaf. Bila pulang mas Galang sering memberiku oleh-oleh jubah panjang. Belum setahun aku “berhijrah”, tapi dukungan dari papa dan mama juga 2 mas “ikhwanku” membuatku bersemangat. Aku bersyukur punya 2 abang yang menjadi jalan taubatku atas ijin Allah ta’ala. Mama juga mulai berkerudung bila keluar rumah. Alhamdulillah kusyukuri semua atas hidayah ini, dan satu lagi, setiap orang di rumah kini tengah bersemangat dalam berbenah untuk memperbaiki diri. Semoga kami semua istiqomah.  

Diketik ulang dari majalah SAKINAH vol 10 no 3 oleh akhanggas untuk http:// enkripsi .wordpress.com